Merchandise Inventory Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Mencatatnya

merchandise inventory adalah

TL;DR

Merchandise inventory adalah persediaan barang dagangan yang dimiliki perusahaan ritel untuk dijual kembali kepada konsumen. Dalam akuntansi, barang ini masuk kategori aset lancar. Ada dua metode pencatatan: periodik (dihitung di akhir periode) dan perpetual (dicatat setiap terjadi transaksi). Pengelolaan yang akurat langsung memengaruhi laporan laba rugi dan neraca perusahaan.

Di toko pakaian, rak yang penuh dengan kemeja dan celana itu bukan sekadar dekorasi. Dari sudut pandang akuntansi, setiap barang yang tergantung di sana adalah aset yang tercatat di neraca perusahaan. Ketika satu kemeja terjual, aset itu berpindah menjadi beban pokok penjualan yang mengurangi keuntungan. Inilah inti dari konsep merchandise inventory: persediaan barang yang menentukan bagaimana posisi keuangan perusahaan ritel sesungguhnya terbaca.

Apa Itu Merchandise Inventory?

Merchandise inventory adalah persediaan produk siap jual yang dimiliki dan disimpan oleh perusahaan dagang untuk tujuan dijual kembali kepada konsumen, tanpa mengubah bentuk atau melakukan proses produksi terlebih dahulu. Dalam istilah Indonesia, ini juga dikenal sebagai persediaan barang dagangan (PBD).

Perbedaannya dengan persediaan di perusahaan manufaktur penting untuk dipahami. Perusahaan manufaktur punya tiga jenis persediaan: bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Perusahaan dagang hanya punya satu: barang yang sudah siap dijual. Perusahaan seperti Alfamart, Indomaret, atau toko online di Tokopedia dan Shopee adalah contoh bisnis yang operasionalnya bergantung pada pengelolaan merchandise inventory.

Dalam laporan keuangan, merchandise inventory masuk ke kategori aset lancar karena diharapkan bisa dikonversi menjadi uang tunai dalam waktu kurang dari satu tahun melalui proses penjualan.

Dua Metode Pencatatan Merchandise Inventory

Cara suatu bisnis mencatat pergerakan persediaan barangnya akan sangat memengaruhi akurasi laporan keuangan. Mekari Jurnal menyebutkan ada dua metode utama yang digunakan:

Metode Periodik (Periodic System)

Dalam metode periodik, nilai persediaan tidak dicatat setiap kali terjadi transaksi penjualan atau pembelian. Perhitungan dilakukan secara fisik pada akhir periode tertentu, misalnya akhir bulan atau akhir tahun fiskal. Artinya, untuk mengetahui berapa sisa stok yang ada, seseorang harus menghitung secara fisik semua barang yang tersimpan di gudang atau di rak toko.

Metode ini lebih sederhana dan cocok untuk bisnis kecil dengan jumlah jenis produk yang tidak terlalu banyak. Kelemahannya: pemilik tidak tahu berapa stok yang tersisa secara real-time, sehingga lebih rentan kehabisan stok atau kelebihan stok tanpa disadari.

Metode Perpetual (Perpetual System)

Metode perpetual mencatat setiap mutasi persediaan secara langsung setiap kali terjadi pembelian atau penjualan. Ketika satu produk terjual, sistem langsung mengurangi angka persediaan. Ketika restok datang, sistem langsung menambahkannya.

Metode ini lebih kompleks tapi memberikan gambaran stok yang selalu akurat. Sistem POS modern menggunakan metode perpetual secara otomatis: setiap transaksi di kasir langsung memperbarui jumlah stok di database. Untuk bisnis dengan volume transaksi tinggi atau banyak SKU (Stock Keeping Unit), metode perpetual adalah standar yang harus diterapkan.

Baca juga: Contoh Buat Alamat Pengiriman Paket yang Benar dan Lengkap

Komponen Nilai dalam Merchandise Inventory

Nilai merchandise inventory bukan hanya harga beli barang dari pemasok. BINUS University menjelaskan bahwa nilai persediaan yang tercatat di akuntansi mencakup semua biaya yang dikeluarkan untuk membawa barang tersebut ke kondisi siap jual, termasuk:

  • Harga beli dari pemasok: Harga pokok yang tertera di faktur pembelian.
  • Biaya pengiriman (freight-in): Ongkos kirim dari pemasok ke gudang bisnis Anda, jika menjadi tanggungan pembeli.
  • Biaya asuransi pengiriman: Jika barang diasuransikan selama proses pengiriman.
  • Biaya bea masuk: Untuk barang yang diimpor dari luar negeri.

Biaya yang tidak masuk ke nilai persediaan antara lain: diskon yang diterima dari pemasok (mengurangi nilai persediaan), biaya penyimpanan setelah barang tiba di gudang, dan biaya pengiriman ke pelanggan (freight-out) yang masuk ke beban operasional.

Dampak Merchandise Inventory terhadap Laporan Keuangan

Cara bisnis menilai persediaannya berdampak langsung pada dua laporan keuangan utama. Di neraca, merchandise inventory muncul sebagai aset lancar. Nilainya memengaruhi rasio likuiditas yang dipakai kreditur untuk menilai kemampuan bisnis membayar utang jangka pendek.

Di laporan laba rugi, persediaan muncul dalam perhitungan harga pokok penjualan (HPP). Rumusnya: HPP = persediaan awal + pembelian bersih – persediaan akhir. Nilai persediaan akhir yang lebih tinggi akan menghasilkan HPP yang lebih rendah, yang pada akhirnya meningkatkan laba kotor. Ini mengapa metode penilaian persediaan, apakah FIFO, LIFO, atau rata-rata tertimbang, punya pengaruh signifikan pada angka keuntungan yang dilaporkan perusahaan.

Baca juga: SIPAFI Kabupaten Teluk Wondama: Sistem Informasi PAFI

Kenapa Pengelolaan Merchandise Inventory Bisa Membuat atau Menghancurkan Bisnis Ritel

Persediaan yang terlalu banyak mengikat modal dan meningkatkan risiko produk kadaluarsa atau ketinggalan tren. Persediaan yang terlalu sedikit menyebabkan kehabisan stok, pelanggan kecewa, dan peluang penjualan yang hilang begitu saja.

Bisnis ritel yang berhasil biasanya punya sistem pemantauan stok yang cukup ketat: mereka tahu produk mana yang berputar cepat, mana yang lambat, dan kapan waktu terbaik untuk melakukan pemesanan ulang sebelum stok habis. Data historis penjualan dan tren musiman adalah dua alat terpenting untuk membuat keputusan pengadaan yang tepat.

Pada akhirnya, pengelolaan merchandise inventory yang baik bukan hanya soal akuntansi yang rapi. Ini soal seberapa efisien modal bisnis bekerja, seberapa cepat barang berputar menjadi uang tunai, dan seberapa jarang pelanggan pergi dengan tangan kosong karena stok tidak tersedia.

Scroll to Top